Alasan Menulis Nggak Melulu Perkara Cuan

Alasan menulis nggak cuma perkara cuan, lho! Yuk, simak alasan-alasan lain supaya kamu bisa merasa lega!

Mendapatkan imbalan saat kamu melakukan sebuah pekerjaan tentu membuat segala jerih payah ini terbayarkan. Sama halnya dengan pekerjaan menulis. Ada royalti yang didapatkan Penulis ketika karyanya terjual di pasaran.

Namun, di saat kamu adalah seorang penulis, tetapi belum menghasilkan cuan sedikit pun, apakah kamu harus berhenti menulis?

Alasan agar tetap menulis, nggak melulu perkara cuan www.mosaicrile.com
Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Alasan menulis adalah untuk mengekspresikan diri, sekaranglah waktu yang tepat untuk melakukannya

Musikus berkarya melalui musik, Penari berekspresi dengan gerak tubuh mereka, dan Penulis lewat rangkaian kata-kata.

Mengungkapkan isi hati adalah sebuah kebutuhan yang, secara kebetulan, menjadi nilai tambah bagi Penulis untuk menuangkan perasaan dan pemikirannya dengan sebuah cerita.

Bukankah menulis juga merupakan kendaraan yang baik supaya kamu dapat mengenal diri?

Kamu bisa saja menjadi sosok yang menghidupkan hari seseorang atau bahkan mengubah pandangan mereka selama ini

Setiap kali kamu menuliskan sesuatu yang bersifat memotivasi, menyentuh, optimis, atau bahkan cerita-cerita yang jenaka sekali pun, kamu bisa saja mewarnai hari seseorang.

Yup, bahkan jika itu hanya satu orang pembaca, kamu tetap membawa kebahagiaan untuk dirinya.

Sesuatu yang berharga, bukan?

Apa yang terasa sulit dikerjakan sekarang, akan menjadi mudah seiring berjalannya waktu

Kamu merasa tidak punya talenta yang besar ataupun kemampuan yang memadai untuk menghasilkan karya yang bagus.

Keraguan itu tidak akan bisa pudar sekarang ataupun kelak. Untuk menjadi lebih baik, kamu perlu terus-menerus praktik.

Itulah mengapa latihan menulis setiap hari (tidak perlu memusingkan besaran keuntungan dulu) bisa meningkatkan jam terbangmu dan mendatangkan kesempatan-kesempatan lainnya.

Menulis membuatmu berani untuk melangkah lebih jauh dalam hidup dan menilai pengalaman lewat sudut pandang berbeda

Ide menulis datangnya bisa dari mana saja (baca: Langkah Menggali Ide Menjadi Sebuah Cerita Fiksi), bahkan dari pengalaman hidup sendiri. Dalam menuliskan pengalaman tersebut, kamu menjadi lebih jeli melihat permasalahan, memetik pesan-pesan berharga yang terkandung di dalamnya, serta membuang hal-hal buruk yang pernah terjadi. Hal ini pun bisa membuatmu menemukan akar masalah dan membantumu mendapatkan pelajaran baru.

Ingatlah motivasi pertama yang menggerakkan hati untuk menulis

Jika dalam perjalanan karier menulis, kamu menemukan kerugian, ketidakcocokkan dengan pihak penerbit atau sebuah platform menulis, tidak mendapatkan banyak pembaca, hingga kamu merasa buang-buang waktu, ingatlah kembali saat pertama kali kamu menggerakkan tangan di atas keyboard dan memulai sebuah cerita. Jika mengingat itu membuatmu bahagia, lanjutkanlah!

Terus menulis karena kamu memang menyukainya dan itu merupakan alasan yang lebih dari cukup, tidak peduli seberapa besar penghalangmu.

MosaicRile

Dengan membaca buku kamu bisa kembali menemukan semangat menulis kisah-kisah yang sudah terpendam lama di benakmu

Ada waktu-waktu ketika seorang penulis merasa bosan dengan tulisan-tulisan buatannya. Nah, kamu bisa menyelingi aktivitas menulismu dengan kegiatan membaca. Cerita-cerita yang tertuang dalam buku bacaan bisa menjadi inspirasi yang menghidupkan kembali semangat menulismu.

Butuh bacaan menarik?

Rekomendasi Buku Bacaan:

Novel Karya MosaicRile www.mosaicrile.com
Novel-Novel MosaicRile
Posted in Blog and tagged , , , .